Kamis, 20 Desember 2012

Ikan Sidat Indonesia Diincar Jepang

Benar jika dikatakan bahwa kekayaan kelautan dan perikanan Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Buktinya terlihat dari salah satu spesies ikan kegemaran warga Jepang, yaitu ikan sidat atau unagi, yang banyak hidup di perairan Indonesia.

Benih ikan sidat yang bisa hidup di air tawar dan asin itu ternyata menjadi incaran pengusaha perikanan Jepang karena harganya yang terbilang wah dan bisa mengucurkan yen ke kantong. Ambil contoh, ikan sidat jenis marmorata. Untuk membeli satu kilogramnya saja, Anda harus menyediakan uang setidaknya Rp 300.000.

Namun, ada juga 5 jenis ikan sidat lainnya yang salah satunya dijual seharga Rp 150.000 per kg, yakni jenis bicolor. Benihnya banyak ditemukan di perairan Palabuhan Ratu, Jawa Barat. Sampai saat ini, manusia belum bisa melakukan pemijahan terhadap benih ikan sidat tersebut. Pasalnya, ikan ini mensyaratkan pemijahan dilakukan di perairan laut dalam setelah benur lahir dan menjadi benih. Biasanya anakan sidat akan berenang ke muara sungai.

Di muara sungai itulah ikan itu besar sampai kemudian datang masa pemijahan lagi. "Jepang yang memiliki teknologi tinggi pun sampai sekarang belum bisa melakukan pemijahan tersebut," papar Made Suita, Kepala Balai Pelayanan Usaha (BLU) Tambak Pandu, Karawang, Minggu (14/3/2010).

Alhasil, untuk pembudidayaan ikan sidat tersebut, benih harus didatangkan dari alam. Beberapa daerah yang sudah memiliki sebaran tersebut adalah perairan Poso, Manado, selatan Jawa terutama perairan Palabuhan Ratu, dan perairan di barat Sumatera.

Namun, tidak semua daerah itu benihnya bisa dimanfaatkan karena banyak nelayan yang belum mengerti cara untuk menangkapnya. Made menyebutkan, nelayan yang sudah memiliki kemampuan untuk menangkap benih sidat itu baru nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Wilayah ini memiliki palung dan muara sungai yang mengalir ke laut.

Nurdin selaku Kepala Bagian Budidaya di BLU Pandu Karawang bilang, kini sudah ada yang mengomersialkan keberadaan benih itu, terutama nelayan yang ada di Palabuhan Ratu. Mereka sudah mengetahui potensi pasar benih ikan sidat, yang satu kilogramnya atau sekitar 5.000 benih dijual seharga Rp 150.000 per kg. Pembelinya pun kebanyakan datang dari Taiwan, Korea, China, Vietnam, dan tentunya Jepang.

Namun sebagian masyarakat Indonesia belum mengerti keberadaan bibit ikan sidat tersebut. Di Poso dan Manadi, misalnya, benih ikan sidat tersebut bahkan dijadikan ikan yang digoreng dengan rempeyek. Menurut Nurdin, ketika warga tidak mengetahuinya, ikan sidat itu menjadi ikan biasa seperti teri.

Pembeli benih ikan sidat dari berbagai negara kini sudah banyak mengincarnya. Sementara itu, pembeli benih domestik hanya memanfaatkannya untuk kebutuhan budidaya yang ada di Karawang, Cirebon, dan Indramayu. Yang menyulitkan bagi pembudidaya di dalam negeri adalah mereka tidak memiliki akses langsung ke pasar ekspor. Adapun di pasar dalam negeri, mereka tidak bisa berharap banyak karena konsumen domestik tidak menyukai ikan sidat dan juga karena harganya yang mahal.

"Untuk membudidayakannya juga ada persyaratan jika ingin ekspor ke Jepang sehingga pembudidaya ikan sidat sulit untuk ekspor ke sana," kata Nurdin.

Salah satu cara untuk bisa menembus pasar Jepang adalah dengan menjalin kerja sama terhadap perusahaan Jepang yang sebelumnya sudah berbisnis ikan sidat.

Nurdin bilang, ikan sidat cukup mahal karena proses perawatannya yang membutuhkan waktu lebih panjang, yakni 3-4 bulan. Adapun pakan utamanya adalah pelet dengan protein tinggi yang dijual seharga Rp 9.000 per kg. Selain itu, ikan juga butuh pakan tambahan berupa keong mas yang sudah dipotong-potong.

Dalam perawatannya pun, suplai oksigen harus dijaga karena ikan sidat membutuhkan air dengan tingkat larutan oksigen tinggi. Adapun tingkat kehidupan rata-rata ikan sidat tersebut mencapai 75 persen dari bibit yang ditebar. "Jika ingin detailnya, maka silakan datang ke BLU Tambak Pandu Karawang. Kami akan berikan informasi detailnya," undang Nurdin.

Saat ini di BLU Pandu Karawang terdapat mitra kerja sama dari Jepang, yakni Asama Industry Co Ltd. Mitra ini bekerja sama dengan PT Suri Tani Pemuka yang melakukan kerja sama untuk memproduksi ikan sidat di BLU Pandu Karawang. Ikan sidat yang sudah diproduksi tersebut bisa diekspor langsung ke Jepang karena sudah ada yang menampung. Sayang, Made tidak mau menyebutkan angka ekspor dari perusahaan mitranya tersebut.

Saat ini yang dibutuhkan oleh pembudidaya ikan sidat adalah membuka kerja sama dengan pemasok ikan sidat yang ada di pasar dunia. Menurut Made, pasar yang sangat menarik dan belum banyak disentuh adalah pasar ikan sidat untuk kebutuhan non-Jepang. "Yang mengonsumsi itu tidak hanya Jepang. Taiwan, Korea, dan China juga sangat menyukai ikan ini," ungkap Made.

Butuh proteksi ekspor benih

Masalah yang dihadapi oleh pembudidaya ikan sidat ini adalah masalah daya saing yang ketat dengan negara produsen lainnya. Negara yang sudah mengembangkan budidaya ikan sidat ini adalah Vietnam dan Korea, demikian juga dengan Jepang sendiri. Anehnya, kata Made, budidaya di dua negara tersebut mendapatkan benih ikan sidat dari Indonesia.

Padahal, kata Made, Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memproteksi ekspor benih ikan sidat dengan alasan guna melindungi spesies dan untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. "Namun, pembudidaya ikan sidat di Jepang itu sendiri ternyata adalah orang Indonesia," ungkap Made.

Termasuk yang ada di Korea dan juga Vietnam, benih ikan sidat itu diindikasi berasal dari Indonesia. Made mengindikasi bahwa banyak benih ikan sidat dari Indonesia berseliweran keluar negeri dan dibudidayakan di luar negeri. "Kontainer saja yang besar bisa diselundupkan, apalagi benih yang kecil ini," ujar Made.

Jika penyelundupan benih itu bisa diatasi, maka produksi ikan sidat dari budidaya di dalam negeri bisa sangat diandalkan sebagai nilai tambah bagi pembudidaya di dalam negeri, termasuk menambah devisa negara.

'JIKA BUTUH BIBIT SIDAT ATAU MAU MENYUPLAY BINIH SIDAT BISA HUBUNGI FACEBOOK INI .. ??
- https://www.facebook.com/darmawanagung690
- https://www.facebook.com/chikuciiechalem?fref=ts

TERIMA KASIH TELAH MAMPIR




Rabu, 19 Desember 2012

ANALISIS BUDIDAYA SIDAT

 
Sidat (Anguilla spp), merupakan komoditas perikanan ini belum banyak dikenal orang. Padahal, hewan yang mirip dengan belut ini memiliki potensi luar biasa sebagai komoditas dalam negeri maupun ekspor. Saat ini, permintaan ekspor sidat terus meningkat. Harga jualnya juga mencengangkan. Ikan sidat merupakan salah satu jenis ikan yang laku di pasar internasional (Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain), dengan demikian ikan ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. Di Indonesia sendiri, sumberdaya benih cukup berlimpah. Setidaknya, terdapat empat jenis sidat, yaitu Anguilla bicolor, Anguilla marmorata, Anguilla nebulosa, dan Anguilla celebesensis.

Secara kasat mata, ikan sidat memiliki bentuk yang menyerupai belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip dan bulat, sedangkan ikan sidat ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor yang mirip ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping. Karena, yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip. Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm. Sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm−125 cm. Bobot terberat binatang ini juga bisa menyentuh angka 1 kg. Bahkan, di Pulau Enggano, Propinsi Bengkulu pernah ditemukan ikan sidat dengan berat sampai 10 kg.
Selain memiliki pasar ekspor yang potensial, ikan sidat sendiri memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram. Dengan fakta seperti itu, maka membudidayakan ikan sidat selain mempunyai potensi pasar yang menjanjikan juga bisa memberikan jaminan gizi kepada orang yang mengkonsumsinya.
Perubahan iklim telah mengubah pola migrasi ikan sidat di perairan laut Kepulauan Indonesia. Jika biasanya ikan ini hanya bisa dilihat di laut selama setengah tahun, namun saat ini belut laut ini muncul sepanjang tahun. Bentuknya seperti ular. Namun secara biologis karena memiliki insang dan sirip dia masuk kelompok ikan. Orang Indonesia biasa menyebutnya ikan sidat (belut laut tropis) atau bahasa latinnya anguilla sp. Jarang sekali ikan ini dikonsumsi oleh orang pribumi. Meski demikian, jangan remehkan ikan ini dari bentuknya. Sebab kandungan nutrisi ikan ini berada di atas rata-rata semua jenis ikan. Bahkan, di Eropa, Amerika, dan Jepang ikan ini laris manis dan menjadi konsumsi dari kalangan menengah ke atas karena harganya cukup mahal. Sebagian orang Jepang percaya bahwa dengan mengonsumsi ikan ini bisa menambah stamina dan memperpanjang umur. Meskipun terkesan hanya sebagai mitos, namun secara medis ikan ini memang memiliki kandungan nutrisi protein, karbohidrat, serta omega 3 yang tinggi. Sehingga menguatkan fungsi otak dan memperlambat terjadinya kepikunan. Indonesia memiliki potensi sebagai penghasil ikan sidat jenis tropis yang melimpah.
Namun, saat ini di Indonesia sumberdaya ikan sidat belum begitu banyak dimanfaatkan seperti halnya di Jepang ataupun Negara Eropa lainnya. Padahal di berbagai wilayah di Indonesia ukuran benih maupun ukuran konsumsi ikan ini jumlahnya cukup melimpah. Tingkat pemanfaatan ikan sidat secara lokal juga masih sangat rendah, akibat belum banyak dikenalnya ikan ini, sehingga kebanyakan penduduk Indonesia belum familiar untuk mengkonsumsi ikan sidat. Demikian pula pemanfaatan ikan sidat untuk tujuan ekspor masih sangat terbatas.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membudidayakan ikan sidat antara lain:
a.    Suhu. Pada pemeliharaan benih Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.
b.    Salinitas. Pada pemeliharaan Ikan Sidat lokal,  A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 – 7 ppt.
c.    Oksigen Terlarut. Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidat berkisar antara 0,5 – 2,5 ppm.
d.    pH. pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 – 8.
e.    Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N). Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 – 40 ppm seluruh Ikan Sidat mengalami methemoglobinemie.
f.     Kebutuhan nutrient. Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).
Menurut Peneliti Bidang Sumber Daya Laut Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hagi Yulia Sugeha menyatakan RI berpotensi menjadi penghasil ikan sidat terbesar di dunia. Sebab, ikan sidat jenis tropis yang ada di perairan laut Indonesia memiliki karakter yang unik. Sidat betina tropis memiliki kemampuan reproduksi sembilan kali lebih banyak ketimbang jenis ikan sidat dari lintang tinggi. Ini bisa dilihat dari jumlah telur yang dibawa dalam perutnya. Selain itu kemampuan memijahnya pun sepanjang tahun. Dengan kemampuan bertelur mencapai ratusan ribu bahkan jutaan telur, maka ikan ini sangat potensial untuk dibudidayakan.
ANALISIS BIAYA
NO.
BIAYA INVESTASI
HARGA
VOLUME
JUMLAH
1.
Persiapan Lahan
Rp   3,000,000
1
Rp      3,000,000
2.
Pagar Biosekuriti dan saringan
Rp   1,700,000
1
Rp      1,700,000
3.
Tiang pagar (bambu)
Rp      600,000
1
Rp         600,000
4.
Pompa
Rp   5,000,000
2 Unit
Rp    10,000,000
5.
Sewa Lahan
Rp   5,000,000
1 Tahun
Rp      5,000,000
6.
Saung Jaga
Rp   2,000,000
1
Rp      2,000,000
Sub Total
Rp    22,300,000
NO.
BIAYA OPERASIONAL
HARGA
VOLUME
JUMLAH
1.
Benih sidat size 10 (berat 100gr)
Rp        30,000
800 Kg
Rp   24,000,000
2.
Pakan Sidat
Rp        13,500
8000 Kg
Rp 108,000,000
3.
Bahan Bakar Solar
Rp        10,000
1200 Liter
Rp   12,000,000
4.
Honor Tenaga Kerja
Rp   1,450,000
6 Orang
Rp     8,700,000
5.
Panen
Rp   2,000,000
1
Rp     2,000,000
Sub Total
Rp 154,700,000
Total Biaya
Rp 177,000,000
Target Masa Pembudidayaan Ikan Sidat Selama 6 (Enam) Bulan
Berat Ikan Sidat akan bertambah 10 kali lipat menjadi 8.000 kg
Analisa Keuntugan Penjualan Ikan Sidat 8,000 kg x Rp 70,000 = Rp 560,000,000
NO.
BIAYA-BIAYA
JUMLAH
1.
Biaya operasional
Rp            154,700,000
2.
Biaya investasi
Rp              10,300,000
3.
Biaya penyusutan (pompa & saung jaga)
Rp                2,400,000
Total Biaya
Rp            167,400,000
Keuntungan Rp 392,600,000
Profesional Fee 20% = Rp 78,520,000
Keuntungan Bersih = Rp 314,080,000
Pengembalian Investasi/Return On Invesment (ROI)
Pengembalian Investasi/Return On Investment sangat penting diketahui untuk menilai tentang keberhasilan suatu investasi atau kinerja investasi. Dengan pengembalian Investasi(ROI) maka akan kelihatan sukses/tidak sukses seorang mamajer.Untuk mengatakan bahwa suatu angka ROI itu tinggi atau rendah dibutuhkan pembanding, yaitu bisa dengan membandingkan dengan ROI tahun-tahun sebelumnya atau ROI industri atau ROI yang disyaratkan.
ROI = (Laba Neto Operasi/Penjualan) x ( Penjualan/Rata-rata aktiva Operasional
ROI tetap menunjukkan catatan yang baik, sepanjang hasil ROI yang dihasilkan tetap lebih tinggi daripada tingkat ROI disyaratkan.
Return On Investment (ROI) = 177%

"SELAMAT MENCOBA BUDIDAYA SIDAT YA GAN ... !!! 
 
BUDIDAYA SIDAT

Budidaya Sidat Janjikan Omzet Menggiurkan


KKP News || Budidaya sidat kini menjadi salah satu usaha yang menjanjikan dan beromzet tinggi. Komoditas sidat hingga kini masih terbatas dikarenakan belum ada teknologi untuk pemijahan, sehingga harga di pasaran terbilang cukup tinggi. Keberadaan makhluk licin berlendir itu sangat diminati pasar dunia. Terutama konsumen oriental, seperti Jepang, Hongkong, Korea Selatan, China, dan Taiwan. Permintaan sidat di pasar internasional mencapai 300 ribu ton per tahun. Dari total kebutuhan tersebut, permintaan Jepang terhadap jenis unagi kabayaki 150 ribu ton per tahun. Bahkan, menurut Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Subiakto, permintaan di dalam negeri begitu besar yakni sebanyak 3 ton per bulan hanya untuk daerah Jakarta saja, belum daerah lainnya.

Naiknya permintaan komoditi sidat diiringi tumbuhnya restoran Jepang di Jakarta dan daerah-daerah lain. “itu pun masih kekurangan pasokan bahan baku sidat,” sambungnya. Dikatakannya, saat ini harga sidat dapat mencapai Rp300 ribu hingga Rp 600ribu/kg. Oleh karena itu menurutnya, ini merupakan tugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mengembangkan dan mendorong masyarakat agar mau membudidayakan sidat ini, karena sidat memiliki nilai tambah yang tinggi.

“Potensi sidat di Indonesia luar biasa besarnya, karena Indonesia merupakan negara penghasil sidat terbesar di dunia, karena hampir setiap muara di perairan indonesia terdapat sidat,” kata Slamet dalam acara kunjungan kerja ke PT Jawa Suisan Indah di Pelabuhan Ratu Sukabumi Jawa Barat, kemarin sore (21/4)

Saat ini, selain Indonesia yang mengeskpor sidat, negara-negara seperti Eropa, China, Amerika turut mengekspor sidat. Sejauh ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk pembenihan sidat, masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam.” Bahkan di belahan dunia manapun belum ada teknologi pemijahan bagi sidat ini,” ungkap Slamet.

Oleh sebab itu, Slamet mengimbau kepada masyarakat dalam menjaga kelestarian sidat agar jangan menangkap sidat diatas 500gr. Selain itu, pemerintah daerah setempat harus membuat peraturan bahwa orang menangkap dari alam harus dibudidayakan tidak boleh langsung dijual. “Tapi untuk sidat yang berukuran diatas 30 cm itu baru boleh dijual,” ungkapnya.

Terkait ekspor benih ilegal, Slamet menegaskan tidak boleh ekspor sidat jenis elver dan glass eel karena sudah ada Peraturan Menteri yang mengatur pelarangan ekspor benih sidat. Slamet merespons hal tersebut dengan menerjunkan tim untuk mengevaluasi dan mengawasi ke lapangan mengenai kebenaran ekspor benih sidat ilegal.

Ia merinci, ekspor yang dilarang adalah benih-benih sidat yang berukuran panjang 30 dan diameternya minimal 2,5 cm serta beratnya sekitar 100gr. Untuk itulah, pihaknya akan bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) dalam mengawasi peredaran penjualan sidat ilegal. Slamet mengakui masih terkendala dalam penyediaan pakan untuk sidat. “Budidaya Sidat merupakan hal yang baru, nah  tantangan bagi kita untuk membuat formulasi pakan sidat,” katanya.

Hal senada dikatakan oleh pemilik PT Jawa Suisan Indah, Ishitani bahwa pakan untuk sidat masih menjadi kendala. Menurutnya pakan khusus sidat masih belum ada yang sesuai  di Indonesia. Oleh sebab itu, pabrik ini menyiasatinya dengan memakai pakan udang untuk pakan sidat. Selain itu, ia mengatakan saat ini pabriknya masih kekurangan bahan baku untuk pabrik pengolahannya. “Kapasitas pabrik sekitar 2000 ton, hanya produksi pabrik ini belum optimal baru mencapai 300 ton/tahun,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia berharap agar ditambahnya pasokan sidat sehingga dapat memenuhi permintaan pasar. Untuk menyiasati kekurangan pasokan, Ishitani memberdayakan pembudidaya dengan membeli hasil tangkapan sidat dari masyarakat. “Biasanya, kami membeli dari masyarakat minimal ukurannya sekitar 5gr.

Perlu Sosialisasi
Hal senada dikemukakan oleh syamsudin bahwa budidaya sidat masih terkendala mengenai teknologi pemijahan dan pakan. Sampai saat ini belum ada teknologi pemijahan sidat, hasil tangkapan masih bergantung pada alam.

Ia mengemukakan di Indonesia, sentra sidat terdapat di Parigi Moutong, Manado, NTT, Aceh, Bengkulu. Menurutnya, hasil tangkapan dari alam masih terbilang cukup banyak, tentunya harus kita kendalikan. “Sangat disayangkan, pada umumnya masyarakat belum tahu bahwa sidat memiliki nilai jual yang tinggi, sehingga banyak yang dijual murah,” sambungnya

Ia mencontohkan, ketika ke labuan Bajo, disana sidat dijual sangat murah, untuk ukuran 1-2 meter yang sudah dikeringkan dan diasinkan dijual dengan harga Rp2 ribu/kg. Untuk itu, lanjutnya kita perlu mensosialisasikan bahwa ikan sidat ini memiliki harga jual yang tinggi, “Ini merupakan peluang kita dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sosialisasi budidaya sidat ini,” sambungnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan dukungan pemerintah dalam mensosialisasikan serta mengendalikan perdagangan sidat melalui peraturan-peraturan dan ketentuan yang jelas. Dikatakannya, banyak orang ketika dapat langsung dkirim dan dieskpor secara ilegal, karena pengawasan belum diperketat. Umumnya mereka lihai dalam meloloskan sidat ini melalui berbagai cara dan metode sehingga Badan Karantina ikan kecolongan.

Lebih jauh ia mengungkapkan, bantuan PUMP perikanan budidaya dapat digunakan sebagai modal untuk membudidayakan sidat, jadi bukan hanya komoditi ikan nila dan lele saja yang dapat. Sejauh  ini pembudidaya sidat di perigi moutong telah mendapat bantuan program PUMP PB/ kelompok Rp65 juta. “Kami sebagai Asosiasi sekaligus pebisnis siap membeli berapa pun hasil tangkapan sidat dari masyarakat. Nah, hasil tersebut kita jual kepada PT Ishitani yang kekurangan dalam pasokan bahan baku,” katanya.

“Peluang ini  harus kita manfaatkan. Untuk itu kita akan mensinergikan pengusaha-pengusaha skala menengah dan UPT”, pungkasnya. Perlu diketahui, sidat juga banyak keunggulan, diantaranya terdapat kandungan vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atautenggiri 748 mg/100 gram.

Ikan sidat memiliki bentuk yang menyerupai belut. Secara fisik belut memiliki bentuk kepala lancip dan bulat, sedangkan ikan sidat ini mempunyai bentuk kepala segitiga, badan berbintik-bintik, dan ekor yang mirip ekor lele. Sidat juga bukan belut berkuping. Karena, yang selama ini dianggap telinga, sebenarnya adalah sirip. Dilihat dari ukurannya, panjang tubuh belut akan mentok di kisaran 60 cm. Sedangkan panjang sidat berkisar 80 cm-125 cm. Bobot terberat binatang ini juga bisa menyentuh angka 1 kg. Bahkan, di Pulau Enggano, Propinsi Bengkulu pernah ditemukan ikan sidat dengan berat sampai 10 kg.

Selain memiliki pasar ekspor yang potensial, ikan sidat sendiri memiliki kandungan vitamin yang tinggi. Hati ikan sidat memiliki 15.000 IU/100 gram kandungan vitamin A. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram. Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram. Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram. Dengan fakta seperti itu, maka membudidayakan ikan sidat selain mempunyai potensi pasar yang menjanjikan juga bisa memberikan jaminan gizi kepada orang yang mengkonsumsinya.

''info lebih lanjut bisa komen 

TERIMA KASIH